Add to Google Reader or Homepage
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sejarah Konstruksi Membangun Jalan

Dalam sejarahnya, berbagai macam teknik digunakan untuk membangun jalan raya. Di Eropa Utara yang repot dengan tanah basah yang berupa "bubur", dipilih jalan kayu berupa gelondongan kayu dipasang diatas ranting, lalu diatasnya disusun kayu secara melintang berpotongan untuk melalui rintangan tersebut.

Di kepulauan Malta ada bagian jalan yang ditatah agar kendaraan tidak meluncur turun. Sedangkan masyarakat di Lembah Sungai Indus, sudah membangun jalan dari bata yang disemen dengan bituna (bahan aspal) agar tetap kering. Dapat dikatakan, pemakaian bahan aspal sudah dikenal sejak milenium ke 3 sebelum masehi dikawasan ini, terbukti di Mahenjo Daro, Pakistan, terdapat penampung air berbahan batu bata bertambalkan aspal.

Konstruksi jalan Bangsa Romawi berciri khas lurus dengan empat lapisan. Lapisan pertama berupa hamparan pasir atau adukan semen, lapisan berikutnya berupa batu besar datar yang kemudian disusul lapisan kerikil dicampur dengan kapur, kemudian lapisan tipis permukaan lava yang mirip batu api. Ketebalan jalan itu sekitar 0,9-1,5 m. Rancangan Jalan Romawi tersebut termasuk mutakhir sebelum muncul teknologi jalan modern di akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Sayangnya jalan itu rusak ketika Romawi mulai runtuh.

Seorang skotlandia bernama Thomas Telford (1757 - 1834) membuat rancangan jalan raya, di mana batu besar pipih diletakan menghadap ke atas atau berdiri dan sekarang dikenal dengan pondasi jalan Telford. Konstruksi ini sangat kuat terutama sebagai pondasi jalan, dan sangat padat karya karena harus disusun dengan tangan satu per satu. Banyak jalan yang bermutu baik dengan konstruksi Telford, tetapi tidak praktis memakan waktu.

Oleh sebab itu ada konstruksi berikutnya oleh John Loudon Mc Adam (1756-1836). Konstruksi jalan yang di Indonesia dikenal dengan jalan Makadam itu lahir berkat semangat membuat banyak jalan dengan biaya murah. Jalan tersebut berupa batu pecah yang diatur padat dan ditimbun dengan kerikil. Jalan Makadam sangat praktis, batu pecah digelar tidak perlu disusun satu per satu dan saling mengunci sebagai satu kesatuan.

Di akhir abad ke XIX, seiring dengan maraknya penggunaan sepeda, pada 1824 dibangun jalan aspal namun dengan cara menaruh blok-blok aspal. Jalan bersejarah itu dapat disaksikan di Champ-Elysess, Paris, Perancis. Jalan aspal yang bersipat lebih plastis atau dapat kembang susut yang baik terhadap perubahan cuaca dan sebagai pengikat yang lebih tahan air.

Di Skotlandia, hadir jalan beton yang dibuat dari semen portland pada 1865. Sekarang banyak jalan tol dengan konstruksi beton (tebal minimum 29 cm) dan tahan hingga lebih dari 50 tahun serta sangat kuat sekali memikul beban besar.

Jalan Aspal modern merupakan hasil karya imigran Belgia Edward de Smedt di Columbia University, New York. Pada tahun 1872, ia sukses merekayasa aspal dengan kepadatan maksimum. Aspal itu dipakai di Battery Park dan Fifth Avenue, New York, tahun 1872 dan Pennsylvania Avenue, Washington D.C pada tahun 1877.

Pada saat ini sedikitnya 90 % jalan utama di perkotaan selalu menggunakan bahan aspal.




"Banyak jalan menuju Roma" begitulah istilah yang umum dikenal mengenai jalan-jalan Romawi. Istilah tersebut tidaklah keliru karena bangsa Romawi banyak membangun jalan. Di puncak kejayaannya , bangsa Romawi membangun jalan sepanjang 85.000 km yang terbentang dari Inggris hingga Afrika Utara, dari pantai Samudera Atlantik di Semenanjung Iberia hingga Teluk Persia. Keberadaan jalan tersebut diabadikan dalam peta yang dikenal sebagai Peta Peutinger.
Di Eropa, jalan tertua disebut-sebut adalah Jalur Kuning yang berawal dari Yunani dan Tuscany hingga Laut Baltik.

Di Asia timur, bangsa Cina membangun jalan yang menghubungkan kota-kota utamanya yang bila digabung mencapai 3200 km.
Seiring perkembangan peradaban di Timur tengah pada masa 3000 SM, maka dibangunlah jalan raya yang menghubungkan Mesopotamia-Mesir. Selain untuk perdagangan, jalan tersebut berguna untuk kebudayaan bahkan untuk peperangan. Jalan utama pertama di kawasan itu, disebut-sebut adalah Jalan Bangsawan Persia yang terentang dari Teluk Persia hingga Laut Aegea sepanjang 2857 km. Jalan ini bertahan dari tahun 3500-300 SM.
Read more..

Perkerasan lentur

Perkerasan lentur adalah struktur perkerasan yang sangat banyak digunakan dibandingkan dengan struktur perkerasan kaku. Struktur perkerasan lentur dikonstruksi baik untuk konstruksi jalan, maupun untuk konstruksi landasan pacu. Tujuan struktur perkerasan adalah:

* agar di atas struktur perkerasan itu dapat lalui setiap saat. Oleh karena itu lapis permukaan perkerasan harus kedap air - melindungi lapis tanah dasar sehingga kadar air lapis tanah dasar tidak mudah berubah.
* mendistribusikan beban terpusat, sehingga tekanan yang terjadi pada lapis tanah dasar menjadi lebih kecil. Oleh karena itu lapis struktur perkerasan harus dibuat dengan sifat modulus kekakuan (modulus elastisitas) lapis di atas lebih besar daripada lapis di bawahnya.
* menyediaan kekesatan agar aman. Oleh karena itu permukaan perkerasan harus kasar, sehingga mempunyai koefisien gesek yang besar antara roda dan permukaan perkerasan.
* menyediaan kerataan agar nyaman. Oleh karena itu permukaan harus rata, sehingga pengguna tidak terguncang pada saat lewat pada perkerasan.

Semua bahan yang digunakan harus awet (tahan lama), agar struktur perkerasan ini berfungsi untuk waktu yang lama. Lapis permukaan dari struktur perkerasan lentur ini merupakan campuran agregat yang bergradasi rapat dan aspal, atau disebut juga campuran beraspal. Kedua bahan ini dicampur dalam keadaan panas (sehingga dikenal dengan nama hot mix, dihamparkan serta dipadatkan dalam keadaan panas pula. Lapis permukaan ini harus kedap air, permukaannya rata namun kasar. Lapis struktur di bawah lapis permukaan adalah lapis pondasi, dan dibuat dari batu pecah. Lapis di bawahnya adalah lapis pondasi bawah, dan dibuat dari pasir batu (sirtu). Lapis pondasi maupun lapis pondasi bawah ini juga dapat dibuat dari bahan lain seperti material yang distabilitasi dengan portland semen, kapur, aspal, maupun bahan pengikat lainnya. Semua lapis ini dikonstruksi dilapis tanah dasar, yaitu tanah yang telah dipadatkan. Biaya konstruksi struktur perkerasan lentur ini relatif lebih murah dibandingkan dengan struktur perkerasan kaku. Di Indonesia, lebih banyak tenaga pelaksana yang ahli dalam pembuat konstruksi perkerasan lentur dibandingkan dengan perkerasan kaku. Agar struktur perkerasan lentur ini berfungsi dengan baik, maka selain perkerasan harus terpelihara dengan baik, bahu jalan dan saluran samping juga harus terpelihara.



Struktur perkerasan lentur pada saat ini dikonstruksi dengan menggunakan alat berat. Dahulu, konstruksi jalan dibuat dengan menggunaan tenaga manusia dan alat pemadat sederhana. Struktur yang cocok dengan keadaan pada saat itu dikenal dengan konstruksi makadam (berasal dari nama John Loudon McAdam), maupun telford (berasal dari nama Thomas Telford. Pada saat ini konstruksi seperti itu tidak layak lagi dibuat pada jalan penting dan mempunyai volume lalu lintas yang tinggi dan dengan beban yang berat, seperti jalan arteri dan kolektor primer maupun sekunder. Konstruksi Macadam dan Telford masih dapat dipertimbangkan dikonstruksi untuk jalan dengan beban lalu lintas yang ringan, seperti jalan lokal.


Read more..

Apa itu Aspal?

Aspal ialah bahan hidro karbon yang bersifat melekat (adhesive), berwarna hitam kecoklatan, tahan terhadap air, dan visoelastis. Aspal sering juga disebut bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran beraspal yang dimanfaatkan sebagai lapis permukaan lapis perkerasan lentur. Aspal berasal dari aspal alam (aspal buton} atau aspal minyak (aspal yang berasal dari minyak bumi}. Berdasarkan konsistensinya, aspal dapat diklasifikasikan menjadi aspal padat, dan aspal cair.






Read more..

Daftar kayu di Indonesia Jenis Kayu Indah/Kelompok Indah Dua

1. Bongin Irvingia malayana Oliv. Pauh kijang, Sepah, Kayu batu
2. Bungur Lagerstroemia speciosa Pers. Ketangi, wungu (Jw.), tekuyung, benger
3. Cempaka Michelia spp., Elmerrillia spp. Minjaran, Wasian, Manglid, Sitekwok, Kantil (Jw.), Capuka
4. Cendana Santalum album L. Kayu kuning, Lemo daru
5. Dahu Dracontomelon spp.; mis. D. dao Merr. & Rolfe, D. mangiferum Bl. Dao, basuong (Smt.), sengkuang (Mly.), koili
6. Johar Senna spp.[4] Juar, Trengguli, Sebusuk, Bobondelan
7. Kuku Pericopsis mooniana Thw. Kayu laut, Papus, Nani laut
8. Kupang Ormosia spp. Kayu ruan, Saga
9. Lasi Adina fagifolia Ridl. Adina, Kilaki
10. Mahoni Swietenia spp.; mis. S. macrophylla King, S. mahagoni (L.) Jacq. Mahoni
11. Melur Dacrydium spp.; Podocarpus spp. dan Phyllocladus spp. Mis. Dacrydium junghuhnii Miq. Alau, cemantan (Klm.); Jamuju, kayu embun (Slw.), sampinur bunga (Smt.); Sampinur tali; Kayu cina; Ki merah, Sandu
12. Membacang Mangifera spp. Ambacang, Asam, Limus piit, Mempelam, Wani, Mangga
13. Mindi Melia spp.; terutama M. azedarach L. Bawang kungut
14. Nyirih Xylocarpus granatum J. Konig Nyireh, Niri
15. Pasang Quercus spp. Mempening, Baturua, Kasunu, Triti
16. Perepat darat Combretocarpus rotundatus Dans. Marapat, Teruntum batu
17. Raja bunga Adenanthera spp Saga, Segawe, Klenderi
18. Rengas Gluta spp.; Melanorrhoea spp. Ingas, Suloh, Rangas, Rengas burung

19. Ramin Gonystylus bancanus Kurz Gaharu buaya, Medang keladi, Keladi, Miang
20. Sawo kecik Manilkara spp.; mis. M. fascicularis H.J. Lam & Maas Geest., M. kauki (L.) Dub. Subo, Ki sawo
21. Salimuli Cordia spp. Kendal, Klimasada, Purnamasada
22. Sindur Sindora spp.; mis. S. bruggemanii de Wit, S. coriacea Maing., S. wallichii Graham Sepetir (Mly.), sasundur (Klm.), mobingo (Slw.)
23. Sonokembang Pterocarpus indicus Willd. Angsana, Linggua, Nala, Candana
24. Sonokeling Dalbergia latifolia Roxb. Linggota, sono sungu, sonobrits
25. Sungkai Peronema canescens Jack Jati seberang, Jati londo
26. Tanjung Mimusops elengi L. Sawo manuk (Jw.), karikis (Slw.)
27. Tapos Elateriospermum tapos BI. Kelampai, Setan, Kedui, Wayang
28. Tinjau belukar Pteleocarpus lampongus Bakh. Lontar kuning
29. Torem Manilkara kanosiensis H.j. L. et B. M. Sawai, Torem
30. Trembesi Samanea saman Merr. Ki hujan
31. Ulin Eusideroxylon zwageri T.et B. Kayu besi, bulian, kokon
32. Weru Albizia procera Benth. Beru, Ki hiyang, Bengkal

Read more..

Daftar kayu di Indonesia Jenis Kayu Eboni/Kelompok Indah Satu

1. Eboni bergaris Diospyros celebica Bakh. Maitong, Kayu lotong, Sora, Amara
2. Eboni hitam Diospyros rumphii Bakh. Kayu hitam, Maitem, Kayu waled
3. E b o n i Diospyros spp.; di antaranya D. areolata King et G., D. cauliflora BI., D. ebenum Koen, D. ferrea Bakh., D. lolin Bakh., D. macrophylla BI. Baniak, Toli-toli, Kayu arang, Kanara, Gito-gito, Bengkoal, Malam



Read more..

Daftar kayu di Indonesia Jenis Kayu Rimba Campuran/Kelompok Komersial Dua

1. Bakau Rhizophora spp. dan Bruguiera spp Tumu, Lenggadai, Jangkar, Tanjang, Putut, Busing, Mata buaya
2. Bayur Pterospermum spp. Balang, Walang, Wadang, Wayu
3. Benuang Octomeles sumatrana Miq. Benuang bini (Klm.), winuang (Slw.)
4. Berumbung Adina minutiflora Val.); Pertusadina spp. Kayu lobang, Barumbung, Kayu gatal
5. Bintangur Calophyllum spp.; mis. C. calaba L., C. inophyllum L., C. papuanum Lauterb., C. pulcherrimum Wall.ex Choisy, C. soulattri Burm.f. Bintangor, penaga; Nyamplung; Sulatri; Bunoh, bintangur bunut
6. Bipa Pterygota spp. Kayu wipa
7. Bowoi Serianthes minahassae Merr. & Perry (Syn. Albizia minahasae Koord.) Rayango, Merang, Terangkuse
8. Bugis Koordersiodendron pinnatum Merr. Grepau
9. Cenge Mastixia rostrata BI. Cenge, Cingo
10. Duabanga Duabanga moluccana BI. Benuang laki, Takir, Aras, Raju mas
11. Ekaliptus Eucalyptus spp.; mis. E. alba Reinw.ex Bl., E. deglupta Bl., E. urophylla S.T. Blake Kayu putih; Leda, aren (Mlku.), tampai; Ampupu (Timor),
12. Gelam Melaleuca spp. Kayu putih
13. Gempol Nauclea spp. Wosen, Klepu pasir, Anggrit
14. Gopasa Vitex spp. Teraut, Laban
15. Gerunggang/Derum Cratoxylum spp.; mis. C. arborescens (Vahl) Bl., C. cochinchinense (Lour.) Bl. Madang baro; Mampat, butun; kemutul, temau; edat
16. Jabon Anthocephalus spp. (A. chinensis (Lamk.) A.Rich ex Walp. dan A. macrophyllus (Roxb.) Havil.) Kelampayan (Mly.), laran (Klm.), semama (Amb.). Ingg.: cadamba.
17. Jambu-jambu Syzygium spp. [3] Kelat, Ki tembaga, Jambu
18. Kapas-kapasan Exbucklandia populnea R. Brown Hapas-hapas, Tapa-tapa, Leman
19. Kayu kereta Swintonia spp. Rengas sumpung, Merpauh, Bagel mirah
20. Kecapi Sandoricum spp. Papung, Kelam, Sentul
21. Kedondong Hutan Spondias spp. Coco, Kacemcem leuweung
22. Kelumpang Sterculia spp. Kepuh, Kalupat, Lomes

23. Kembang semangkok Scaphium macropodum J. B. Kepayang, merpayang (Smt.)
24. Kempas Koompassia malaccensis Maing. Hampas, impas, tualang ayam
25. Kenanga Cananga sp. Kananga
26. Keranji Dialium spp.; mis. D. indum L., D. platysepalum Baker, D. procerum (v.Steen.) Stey Kayu lilin; Maranji
27. Ketapang Terminalia spp. Kalumpit, Klumprit, Jelawai, Jaha
28. Ketimunan Timonius spp. Seranai, Temirit, Kayu reen
29. Lancat Mastixiodendron spp. Kundur, Modjiu, Raimagago
30. Lara Metrosideros spp. dan Xanthostemon spp. Lompopaito, Nani, Langera
31. Mahang Macaranga spp. Merkubung, Mara, Benua
32. Medang Litsea firma Hook f.; Dehaasia spp. Manggah, Huru kacang, Keleban, Wuru, Kunyit
33. Mempisang Mezzetia parviflora Becc.; Xylopia spp.; Alphonsea spp.; Kandelia candel Druce Mahabai, Hakai rawang, Empunyit, Jangkang, Banitan, Pisang-pisang
34. Mendarahan Myristica spp., Knema spp. Darah-darah, Tangkalak, Au-au, Ki mokla, Kumpang, Kayu luo, Huru
35. Menjalin Xanthophyllum spp. Lilin, Ki endog, Segi landak
36. Mentibu Dactylocladus stenostachys Oliv. Jongkong, merebung
37. Merambung Vernonia arborea Han. Merambung, sembung
38. Punak Tetramerista glabra Miq. Kayu malaka (Smt.), cerega (Klm.)
39. Puspa Schima spp.; terutama S. wallichii Korth. Seru (Jw.), simartolu (Smt.), madang gatal (Klm.)
40. Rengas Gluta aptera (King) Ding Hou Rengas tembaga, Rangas
41. Saninten Castanopsis argentea A. DC. Sarangan (Jw.), ki hiur (Sd.), kalimorot
42. Sengon Paraserianthes falcataria (L) Nielsen Jeungjing, Tawa kase, Sika (Maluku)
43. Sepat Berrya cordofolia Roxb. Waru gunung, Kalong
44. Sesendok Endospermum spp.; mis. E. diadenum (Miq.) Airy Shaw, E. moluccanum (T & B) Kurz, E. peltatum Merr. Sendok-sendok, kayu labuh (Smt.), kayu bulan (Mly.), garung (Klm.); Kayu raja (Mlku.)
45. Simpur Dillenia spp.; mis. D. grandifolia Wall., D. obovata Hoogl., D. pentagyna Roxb. Sempur, segel, janti, dongi
46. Surian Toona sureni Merr. Suren, kalantas
47. Tembesu Fagraea spp.; mis. F. fragrans Roxb., F. sororia J.J. Sm. Tomasu (Smt.), kulaki (Slw.), malbira, ki tandu
48. Tempinis Sloetia elongata Kds. Damuli, Kayu besi
49. Tepis Polyalthia glauca Boerl. Banitan, Pemelesian, Kayu tinyang, Kayu bulan, Banet, Kayu kalet
50. Tenggayun Parartocarpus spp. Buku ongko, Pejatai, Purut bulu
51. Terap Artocarpus spp. Cempedak, Kulur, Tara, Teureup
52. Terentang Campnosperma spp.; mis. C. auriculatum (Bl.) Hook.f., C. brevipetiolatum Volkens, dll. Tumbus (Smt.), pauh lebi
53. Terentang ayam Buchanania spp. Pauhan, Antumbus, Talantang
54. T u s a m Pinus spp. Pinus, Damar batu, Uyam
55. Utup Aromadendron sp. U t u p

Read more..
[Tekan Tombol Ctrl + D Di Keyboard Anda Untuk Simpan/ Bookmark Alamat Website Ini Di Internet Browser Anda]
konstruksi on Facebook

Berlangganan

masukkan e-mail Anda dapatkan artikel terbaru dari kami:

Delivered by konstruksi

Domain Gratis

CO.CC:Free Domain
Adsense Indonesia