Add to Google Reader or Homepage
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

DJUANDA SURAATMADJA (Penemu Beton Polimer yang Ramah Lingkungan)

Beton dalam pengertian umum adalah campuran bahan bangunan berupa pasir dan kerikil atau koral kemudian diikat semen bercampur air. Tetapi, tanpa menggunakan semen Prof Ir H Djuanda Suraatmadja melakukan penelitiannya sampai akhirnya terciptalah bahan bangunan baru yang disebut beton polimer. Hasilnya? "Ternyata cukup bagus dan sampai sekarang tidak pernah ada keluhan," kata Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Rektor Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung itu mengungkapkan berbagai uji coba lapangan sekaligus implementasi hasil temuannya.

Ide dasar penelitian beton polimer pada awalnya berdasarkan pemikiran ingin mencari beton yang dalam hal-hal tertentu memiliki sifat lebih baik dari beton semen. Ternyata dari literatur diketahui, polimer memiliki sifat seperti semen.
Polimer adalah suatu zat kimia yang terdiri dari molekul-molekul yang besar dengan karbon dan hidrogen sebagai molekul utamanya. "Bahan polimer berasal dari limbah plastik yang didaur ulang, kemudian dicampur dengan bahan kimia lainnya," kata penerima Piagam Penghargaan Menteri Pengawasan Lingkungan Hidup (1983) itu. Penggunaan bahan tersebut sekaligus bertujuan memanfaatkan limbah plastik, di samping mencari alternatif pengganti semen. "Ketika itu harga semen masih melonjak-lonjak," katanya dengan tutur kata halus.
Berkat ketekunan dan kegigihannya, penelitiannya yang dilakukan sejak tahun 1975 dengan berbagai uji coba di Laboratorium Struktur dan Bahan serta laboratorium lainnya di ITB dan LIPI akhirnya membuahkan hasil. Hasil penemuan tersebut sekaligus menarik perhatian ilmuwan dan para industriawan mengingat beberapa keistimewaan dan sekaligus kelebihan beton polimer dibanding beton semen.

Tahun 2000, Prof Ir H Djuanda Suraatmadja menerima penghargaan Anugerah Kalyanakretya pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional V yang dicanangkan Presiden Abdurrahman Wahid di Bandung.
BETON polimer memiliki sifat kedap air, tidak terpengaruh sinar ultra violet, tahan terhadap larutan agresif seperti bahan kimia serta kelebihan lainnya. Yang lebih istimewa lagi, beton polimer bisa mengeras di dalam air sehingga bisa digunakan untuk memperbaiki bangunan-bangunan di dalam air.
Satu-satunya kelemahan yang hingga kini belum teratasi adalah harga beton polimer masih belum bisa lebih rendah dibanding beton semen, kecuali untuk daerah Irian Jaya, di mana harga semen sangat mahal. Karena itu, beton polimer selama ini lebih banyak digunakan untuk rehabilitasi bangunan yang rusak.
Perbaikan kubah clinker storage PT Semen Padang yang retak antara 0,01 sampai 5 mm akibat tertimpa crane dilakukan dengan menginjeksi bahan polimer JDB-01 Grout. Bahan serupa diberikan untuk perbaikan rotary kiln PT Tonasa IV yang retak pada pondasinya. Sementara perbaikan prilling tower PT Multi Nitrotama Kimia di lingkungan pabrik natrium nitrat di Dawuan, Cikampek, yang rusak akibat agresi bahan kimia tersebut, dilakukan dengan bahan polimer JDB-05 Coat. "Sampai sekarang masih tetap baik dan tidak ada keluhan," kata penerima Piagam Penghargaan Teladan Menteri PU (1992) dan Tanda Kehormatan "Satyalencana Karya Satya XXX tahun" itu.
JDB-01 Grout dan JDB-05 Coat merupakan dua dari enam jenis bahan polimer hasil penelitiannya yang sudah dipatenkan dengan judul Beton Polimer untuk Perbaikan Struktur Beton dengan nomor paten P-981069. Empat jenis bahan polimer lainnya yang sudah dipatenkan adalah JDB-02 Seal, JDB-03 Bond, JDB-04 Prepack dan JDB-06 Shot. JDB merupakan singkatan dari penemunya, Djuanda dibantu dua mahasiswa yang menjadi rekannya dalam penelitian, Dicky dan Budi. Masing-masing jenis polimer tersebut memiliki sifat dan kegunaan berbeda. JDB-01 Grout, misalnya, merupakan bahan untuk pekerjaan grouting (pelapisan untuk menutupi celah). Sedangkan JDB-02 Seal merupakan bahan pelapis/penutup retakan pada pekerjaan grouting.
Untuk merekatkan dua permukaan digunakan polimer JDB-3 Bond yang memiliki daya adesi tinggi. Sedangkan untuk beton prepack digunakan JDB-04 Prepack. Sedangkan JDB-05 Coat digunakan untuk pelapis dinding, lantai dan permukaan struktur bangunan lainnya dari gesekan atau agresi. Polimer JDB-06 Shot merupakan bahan untuk pekerjaan shotcrete.

Keenam jenis polimer tersebut, selama ini masih diproduksi secara terbatas dan hanya berdasarkan pesanan. Walaupun ia mengakui tidak memiliki modal, tetapi ia belum bersedia menjual hak patennya. Dalam kesibukannya sebagai Rektor Itenas dan Dekan Fakultas Teknik Universitas Siliwangi (Unsil) di Tasikmalaya, ia masih menyisihkan waktunya untuk melakukan penelitian. "Saya masih ingin mengembangkan lagi," katanya mengemukakan alasan.
Lahir dari keluarga guru di Bandung, 3 Januari 1936, setamat dari Fakultas Teknik Sipil ITB (1960) Djuanda menjadi pegawai Pekerjaan Umum Jabar. Setelah enam bulan, ia kembali ke kampusnya karena kecewa. "Gambar-gambar yang saya buat tidak pernah direalisir," ujarnya.
Anak kedua dari 12 bersaudara itu akhirnya memutuskan mengikuti jejak orangtuanya. Ayahnya, Otong Suraatmadja, adalah mantan Direktur SMA I Bandung, dan ibunya, Ny Kamidah Atmadidjaja, pernah menjadi guru Sekolah Kepandaian Puteri (SKP) di Sumedang. Kariernya di ITB diawali sejak tahun 1960 sebagai asisten ahli. Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (1977-1981) dan Kepala Program S2 STJR-ITB (1982-1992). Ayah tiga anak dari perkawinannya dengan Ny Hj Anny Sumarni M Ranusadjati itu banyak melakukan penelitian, di samping tidak kurang dari 24 karya tulis dengan delapan di antaranya disampaikan di luar negeri serta 16 karya teknologi yang sebagian besar merupakan konstruksi beton. Tahun 1971 dan tahun 1982 ia mengikuti pendidikan di The University of New South Wales, Australia, dan University California, Amerika Serikat, setelah sebelumnya di Purdue University selama dua tahun.
Selama itu ia juga banyak melakukan penelitian. Karya-karya penelitiannya yang umumnya telah diseminasikan dalam bentuk Standar Nasional yang dapat berguna bagi masyarakat luas. Yaitu dalam bentuk Peraturan Dinas Nomor 10 tentang Jalan Rel Indonesia, SNI Uji Tarik Langsung Material Beton pada tahun 1997, dan SNI Tata Cara Pemakaian Beton Polimer untuk Perbaikan dan Penguatan Struktur Beton pada tahun 1998.
Karya lainnya yang sekaligus merupakan penemuannya yang terbaru adalah pemanfaatan cooper tailling yang merupakan limbah PT Freeport di Irian Jaya yang selama ini terbuang percuma, bahkan menjadi masalah lingkungan.
Cooper tailling berbentuk seperti pasir namun kurang baik jika digunakan sebagai bahan konstruksi beton semen. Sebaliknya bahan tersebut cukup baik untuk campuran beton polimer sehingga bisa menciptakan peluang wirausaha baru dalam produksi dan aplikasi beton polimer. Namun, ahli beton itu menyayangkan kerja sama ITB dengan PT Freeport terhambat karena situasi keamanan di wilayah tersebut. (Her Suganda) --- Sumber: Harian Kompas, 1 September 2000.
Read more..

SUTJIPTO & RYANTORI (Penemu Konstruksi Fondasi Sarang Laba-laba )

Tersendatnya pembangunan sebuah gedung, merupakan salah satu contoh permasalahan yang muncul dalam dunia konstruksi. Contoh lain, timbulnya dilema ketika perencana konstruksi dihadapkan pada keadaan tinggi atau berat gedung tanggung, daya dukung tanah permukaan rendah, atau letak tanah keras cukup dalam.
Berangkat dari sebuah penelitian, lahirlah penemuan baru sistem konstruksi atau fondasi bangunan, sebagai solusi terhadap dilema yang selalu muncul ketika merencanakan gedung dengan ketinggian tanggung yang butuh fondasi dangkal, seperti lantai satu hingga delapan. Penelitian yang dilakukan oleh Ir. Sutjipto dan Ir. Ryantori tahun 1976 silam, yang akhirnya melahirkan penemuan baru itu.
Diberi nama konstruksi sarang laba-laba atau KSLL karena bentuknya yang mirip sarang laba-laba. Sistem fondasi sarang laba-laba hasil karya bangsa Indonesia asli itu, tak hanya menjawab kebutuhan dunia teknologi konstruksi akan sistem fondasi yang bernilai ekonomis dari segi biaya, tapi juga multi fungsi. Dalam perhitungan, biaya bisa dihemat hingga 50 persen.
Dari segi waktu, sistem KSLL ini sangat efisien, karena menerapkan prinsip ban berjalan, sehingga pengerjaannya pun lebih cepat dibanding sistem konstruksi lain.

Dari 1000 lebih bangunan yang menggunakan sistem KSLL ini, hingga saat ini belum terdapat bangunan yang mengalami keretakan berarti. Ini berarti KSLL memberikan stabilitas yang tinggi, meski terjadi guncangan. Risiko penurunan yang tidak merata, dapat dieliminasi sampai mendekati angka 0. Sistem ini mampu membuat tanah menjadi bagian dari struktur fondasi.
Melalui berbagai studi dan diskusi, KSLL terus dikaji. Dari sebuah lokakarya di kota Bandung, Jawa Barat, mengukuhkan bahwa fondasi sarang laba-laba sebagai salah satu alternatif solusi fondasi, dapat dipertanggung jawabkan dan layak dikembangkan. Kini, lisensi untuk pemasaran sistem fondasi KSLL ini dipegang oleh PT. Katama Suryabumi.
Ir. Sutjipto, penemu teknik fondasi sarang laba-laba ini kemudian justru lebih populer sebagai politisi ketimbang bidang konstruksi keahliannya. Pilihannya dalam berpolitik, telah mengantarkan lulusan Insitut Teknologi Surabaya (ITS) yang kemudian menemukan teknik fondasi sarang laba-laba, ini menjadi seorang politisi kaliber nasional. Ahli konstruksi yang temuannya antara lain dipakai di Bandara Hang Nadim, Batam, ini akhirnya lebih mengalir bicara politik ketimbang bidang konstruksi yang juga digelutinya.
Memang, kehidupan politik bisa jadi berawal dari keaktifannya berorganisasi sejak di SMA tahun 1964 yang terus berlanjut sampai ia kuliah di ITS Surabaya. Pada 1986, Sutjipto mulai terjun aktif di Partai Politik sampai mengantarkan pria kelahiran Trenggalek menduduki jabatan sekretaris jendral partai dan kemudian juga pernah dipilih sebagai Wakil Ketua MPR RI (e-ti/tempo). --- Sumber: TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) & Indosiar (Horison, Mei 2004).
Read more..

TJOKORDA RAKA SUKAWATI (Penemu Landasan Putar Bebas Hambatan Sosrobahu)

Tjokorda Raka Sukawati lahir di Ubud, Bali. Ia mendapatkan gelar insinyur dari Departemen Teknik Sipil ITB. Kemudian ia meniti karier pada PT Hutama Karya, salah satu pelaku jasa konstruksi utama di Indonesia, sampai akhirnya menjadi direktur di perusahaan tersebut. Sekitar tahun 1987, Tjokorda Raka terlibat dalam pekerjaan projek jalan layang yang memiliki panjang total sekira 16,5 km di Cawang, Jakarta. Dari sinilah penemuan teknologi LPBH Sosrobahu bermula.
Saat itu timbul kesulitan tentang cara meminimalkan efek negatif yang timbul dari pembangunan jalan layang pada kawasan-kawasan dengan arus lalu lintas sibuk serta pada kawasan yang memiliki banyak persimpangan. Muncul ide untuk membuat kepala tiang penyangga sejajar dengan ruas jalan kemudian diputar melintang di atas ruas jalan. Tapi bagaimana cara memutar beton? Pertanyaan itu kemudian menjadi obsesinya.
Suatu pagi beliau ingin memperbaiki mobilnya sendiri, karena garasi mobilnya miring pembantu Tjokorda Raka kemudian mengganjal ban belakang mobil. Tapi, rupanya hanya satu ban belakang yang diganjal selain itu ternyata rem tangan mobil juga lupa ditarik, sehingga saat Tjokorda Raka memompa dongkrak hidrolik untuk mengangkat roda depan mobil, tiba-tiba mobil menjadi berputar. Penyebabnya adalah lantai garasi yang licin dan hanya satu ban belakang yang diganjal. Timbul inspirasi dalam dirinya, sehingga pagi itu juga Tjokorda Raka urung memperbaiki mobil.
Ia mulai merancang alat yang dibayangkannya mampu memutar beton yang memiliki berat berton-ton. Ia mendatangi bengkel, melihat lift yang mampu mengangkat mobil menyerupai lift itu. Setelah dicoba diisi beban, lalu diangkat. Macet.
Ia kemudian meninggalkan inspirasi dari lift di bengkel mobil tersebut. Tjokorda Raka mencoba cara lain. Ia kemudian memadukan hukum gesekan untuk memutar beban dengan hukum Pascal untuk mengangkat beban lalu meminta seseorang membuatkannya model untuk diuji coba. Berhasil! Ketika diuji dengan beban berkekuatan 85 ton maupun 180 ton. Berhasil lagi. Ia berhasil membuat alat putar silinder yang mencengangkan teknologi konstruksi. "Saya menangis terharu, penuh rasa syukur," kenang Raka.
Karya teknik ini kemudian diterapkan pada pengerjaan projek jalan layang yang ditanganinya tersebut, tiang penyangga jalan yang sudah kering dan dibangun sejajar ruas jalan kemudian diputar 90 derajat melintang jalan. Caranya, sepasang piringan baja berdiameter 80 cm dipasang di bawah tiang penyangga, setelah tiang tersebut kering, didalamnya dipompakan automatic transmission fluid (ATF) atau oli pelumas sebanyak 78,05 kg/cm2. Dengan teknik tersebut tiang penyangga yang bobot kepalanya saja mencapai 480 ton dengan mudah dapat diputar. Dan jadilah jalan layang tol Cawang-Tanjung Priok itu flyover (jalan layang) pertama di dunia yang memakai teknik "pemutaran kepala tiang penyangga jalan layang".
Karya ciptaan Raka ini kemudian diresmikan Presiden Soeharto (presiden saat itu) dengan nama Sosrobahu. Bahkan presiden ikut memberi dukungan politis terhadap pematenan karya cipta ini.
Saat ini teknologi Landasan Putar Bebas Hambatan (LPBH) Sosrobahu sudah diekspor ke Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura. Salah satu jalan layang terpanjang di Metro Manila, yakni ruas Vilamore-Bicutan adalah buah karya teknik ciptaan Tjokorda. Selain itu, masih ada 134 projek lain berteknologi LPBH Sosrobahu di Filipina serta 35 projek di Malaysia. Saat teknologi Sosrobahu diterapkan di Filipina. Presiden Filipina Fidel Ramos berujar, "Inilah temuan Indonesia, sekaligus buah ciptaan putra ASEAN." Teknologi LPBH Sosrobahu adalah sukses besar di bidang konstruksi yang ditorehkan putra Indonesia dan diakui dunia. (Lalu Hendra) --- Sumber: Harian Pikiran Rakyat, 10 Maret 2005.
Read more..

SEDIJATMO ( Penemu Konstruksi Fondasi Cakar Ayam)

Inspirasi datang bersama angin dan debur ombak. Saat itu, suatu hari di tahun 1961, Sedijatmo sedang piknik bersama keluarga di Pantai Cilincing, Jakarta Utara. Ketika itu, secara tak sengaja, pandangannya menancap ke batang pohon nyiur yang meliuk dan melambai tertiup angin. Muncul pertanyaan di benak Direktur Dinas Perencanaan dan Pembangunan - Perusahaan Listrik Negara (PLN) ini. “Mengapa nyiur bisa berdiri kokoh di tanah lunak meski tertiup angin dan deburan ombak?” Padahal, tubuhnya yang menjulang hanya ditopang akar serabut yang tak terlalu dalam. Kebetulan, Datmo, begitu nama panggilan insinyur itu, tengah memimpin projek besar pembangunan tiang listrik tegangan tinggi di daerah Ancol, kawasan pantai bertanah rawa yang lembek. Lapisan tanah keras di sana bisa mencapai kedalaman 25 meter.
Inspirasi pohon nyiur itu mendorong Datmo, yang ketika itu berusia 52 tahun, membuat rancangan fondasi yang cocok untuk tanah tak stabil seperti daerah rawa. Jadilah fondasi “berserabut” pipa beton yang menyangga kontruksi tower listrik tegangan tinggi. Dengan cara konvensional,tower itu mestinya dibangun dengan fondasi bertiang pancang panjang yang menancap dalam sampai ke lapisan tanah keras.
Secara fisik, bentuk fondasi ala Sedijatmo ini mirip dengan fondasi tiang pancang. Sebuah pelat beton menjadi landasan berdirinya tower. Di bawah pelat yang tebalnya 10-12 sentimeter itu mencuat pipa-pipa beton dengan diameter 50 sentimeter yang satu sama lain berjarak 1-1,5 meter. Hanya saja, pipa ini tak harus memanjang seperti tiang pancang yang mencapai lapisan tanah keras.

Kaki-kaki itu menggantung hanya 3,5 meter panjangnya. Meski tak sampai mencengkeram tanah keras, kaki-kaki “cakar ayam” itu sudah cukup kuat sebagai stabilisator konstruksi yang sanggup menahan tekanan dari atas dan samping. Karena bentuknya mirip kaki ayam, jadilah fondasi ini dinamakan “Fondasi Cakar Ayam”.
Meski secara fisik mirip, cara kerja Fondasi Cakar Ayam berbeda dengan jenis fondasi konvensional. Fondasi ini sangat mengandalkan tekanan pasif tanah dan gaya lateral yang diterima pelat. Itu sebabnya, kedalaman fondasi ini tidak perlu menembus tanah keras. Bandingkan dengan fondasi tiang pancang pada umumnya yang mengandalkan daya dukung tanah keras untuk kekuatannya. Dibandingkan dengan fondasi friction pile pun, Fondasi Cakar Ayam masih lebih efisien, karena tak harus dilengkapi kaki-kaki panjang.
Sukses pemancangan Fondasi Cakar Ayam di Ancol itu kemudian diikuti keberhasilan tower-tower lain. Pemakaiannya meluas, tidak terbatas pada konstruksi menara. Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Polonia Medan juga memanfaatkan kuatnya cengkeraman cakar-cakar beton temuan pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 24 Oktober 1909 ini. Hasil pengujian di Polonia menunjukkan bahwa Fondasi Cakar Ayam mampu mereduksi hingga 75% tekanan pada tanah di bawah landasan pacu. Konstruksi cakar ayam ini telah menunjukkan keandalannya, bahkan setelah diuji puluhan tahun.
Yang paling monumental, ya Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Dari 1.800 hektare (18 km persegi) pengerasan lahan di sana, 120 hektare diantaranya memanfaatkan teknologi cakar ayam. Pemakaiannya mulai dari apron (tempat parkir pesawat terbang), taxi way, hingga landasan pacu di bandara yang tata bangunannya mendapat penghargaan arsitektur lansekap Aga Khan pada 1995 itu.

Fondasi Cakar Ayam mencatat sejumlah kelebihan dibandingkan fondasi jenis lain. Karena fondasi ini letaknya tidak berada jauh dari permukaan tanah, pengerjaannya jauh lebih sederhana ketimbang jika harus memancang atau mengebor tanah.Biaya yang dihemat bisa sampai 30%, karena pengerjaannya lebih cepat dan material yang diperlukan lebih sedikit.
Fondasi Cakar Ayam temuan Sedijatmo telah memperoleh paten dari berbagai negara. Selain Indonesia, fondasi ini juga mendapat paten dari Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Italia, Belgia, Belanda, Denmark dan Jerman. Fondasi Cakar Ayam, sebagai sebuah teknik, telah membuktikan mampu memberikan solusi pada zamannya.
Fondasi Cakar Ayam bukan satu-satunya temuan Sedijatmo. Ayah lima anak ini juga pemegang paten pipa pesat dan penemu pompa air curug. Bahkan pada 1971, ketika usianya 62 tahun, alumnus Technische Hoge School (THS) --sekarang ITB—ini masih berkarya. Ketika itu, ia memperkenalkan teknik “Bahari Ontoseno”, sebuah sistem pembuatan jembatan di sungai yang lebar seperti di daerah Kalimantan.
Atas segala karyanya itu, Sedijatmo memperoleh penghargaan Bintang Mahaputra Kelas I dari Pemerintah Republik Indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama jalan tol di Bandara Soekarno-Hatta hingga kini. (Amalia K. Mala, Wahyu Aji) --- Sumber Majalah Gatra Ed. Khusus, Agustus 2004.


Read more..

Klasifikasi jalan

Klasifikasi jalan atau hirarki jalan adalah pengelompokan jalan berdasarkan fungsi jalan, berdasarkan administrasi pemerintahan dan berdasarkan muatan sumbu yang menyangkut dimensi dan berat kendaraan. Penentuan klasifikasi jalan terkait dengan besarnya volume lalu lintas yang mengggunakan jalan tersebut, besarnya kapasitas jalan, keekonomian dari jalan tersebut serta pembiayaan pembangunan dan perawatan jalan.

Klasifikasi berdasarkan fungsi jalan

Jalan umum menurut fungsinya di Indonesia dikelompokkan ke dalam jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan lingkungan. Klasifikasi fungsional seperti ini diangkat dari klasifikasi di Amerika Serikat [1] dan Canada [2] dimana diatas arteri masih ada Freeway dan Highway.

Klasifikasi jalan fungsional di Indonesia berdasarkan peraturan perundangan[3] yang berlaku adalah:

1. Jalan arteri merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk (akses) dibatasi secara berdaya guna.
2. Jalan kolektor merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan ratarata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi.
3. Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
4. Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.

Klasifikasi berdasarkan administrasi pemerintahan


Pengelompokan jalan dimaksudkan untuk mewujudkan kepastian hukum penyelenggaraan jalan sesuai dengan kewenangan Pemerintah dan pemerintah daerah. Jalan umum menurut statusnya dikelompokkan ke dalam jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa.

1. Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antaribukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol.
2. Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antaribukota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
3. Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak termasuk jalan yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antaribukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
4. Jalan kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang berada di dalam kota.
5. Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.

Klasifikasi berdasarkan muatan sumbu

Untuk keperluan pengaturan penggunaan dan pemenuhan kebutuhan angkutan, jalan dibagi dalam beberapa kelas yang didasarkan pada kebutuhan transportasi, pemilihan moda secara tepat dengan mempertimbangkan keunggulan karakteristik masing-masing moda, perkembangan teknologi kendaraan bermotor, muatan sumbu terberat kendaraan bermotor serta konstruksi jalan. Pengelompokkan jalan[4] menurut muatan sumbu yang disebut juga kelas jalan, terdiri dari:

1. Jalan Kelas I, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan lebih besar dari 10 ton, yang saat ini masih belum digunakan di Indonesia, namun sudah mulai dikembangkan diberbagai negara maju seperti di Prancis telah mencapai muatan sumbu terberat sebesar 13 ton;
2. Jalan Kelas II, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 10 ton, jalan kelas ini merupakan jalan yang sesuai untuk angkutan peti kemas;
3. Jalan Kelas III A, yaitu jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton;
4. Jalan Kelas III B, yaitu jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 12.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton;
5. Jalan Kelas III C, yaitu jalan lokal dan jalan lingkungan yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.100 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 9.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton.



Read more..

Pembangunan jalan raya

Pada dasarnya pembangunan jalan raya adalah proses pembukaan ruangan lalu lintas yang mengatasi pelbagai rintangan geografi. Proses ini melibatkan pengalihan muka bumi, pembangunan jembatan dan terowong, bahkan juag pengalihan tumbuh-tumbuhan. (Ini mungkin melibatkan penebasan hutan). Pelbagai jenis mesin pembangun jalan akan digunakan untuk proses ini.

Muka bumi harus diuji untuk melihat kemampuannya untuk menampung beban kendaraan. Berikutnya, jika perlu, tanah yang lembut akan diganti dengan tanah yang lebih keras. Lapisan tanah ini akan menjadi lapisan dasar. Seterusnya di atas lapisan dasar ini akan dilapisi dengan satu lapisan lagi yang disebut lapisan permukaan. Biasanya lapisan permukaan dibuat dengan aspal ataupun semen.

Pengaliran air merupakan salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam pembangunan jalan raya. Air yang berkumpul di permukaan jalan raya setelah hujan tidak hanya membahayakan pengguna jalan raya, malahan akan mengikis dan merusakkan struktur jalan raya. Karena itu permukaan jalan raya sebenarnya tidak betul-betul rata, sebaliknya mempunyai landaian yang berarah ke selokan di pinggir jalan. Dengan demikian, air hujan akan mengalir kembali ke selokan.

Setelah itu retroflektor dipasang di tempat-tempat yang berbahaya seperti belokan yang tajam. Di permukaan jalan mungkin juga akan diletakkan "mata kucing", yakni sejenis benda bersinar seperti batu yang "ditanamkan" di permukaan jalan raya. Fungsinya adalah untuk menandakan batas lintasan.



Read more..

Sejarah Konstruksi Membangun Jalan

Dalam sejarahnya, berbagai macam teknik digunakan untuk membangun jalan raya. Di Eropa Utara yang repot dengan tanah basah yang berupa "bubur", dipilih jalan kayu berupa gelondongan kayu dipasang diatas ranting, lalu diatasnya disusun kayu secara melintang berpotongan untuk melalui rintangan tersebut.

Di kepulauan Malta ada bagian jalan yang ditatah agar kendaraan tidak meluncur turun. Sedangkan masyarakat di Lembah Sungai Indus, sudah membangun jalan dari bata yang disemen dengan bituna (bahan aspal) agar tetap kering. Dapat dikatakan, pemakaian bahan aspal sudah dikenal sejak milenium ke 3 sebelum masehi dikawasan ini, terbukti di Mahenjo Daro, Pakistan, terdapat penampung air berbahan batu bata bertambalkan aspal.

Konstruksi jalan Bangsa Romawi berciri khas lurus dengan empat lapisan. Lapisan pertama berupa hamparan pasir atau adukan semen, lapisan berikutnya berupa batu besar datar yang kemudian disusul lapisan kerikil dicampur dengan kapur, kemudian lapisan tipis permukaan lava yang mirip batu api. Ketebalan jalan itu sekitar 0,9-1,5 m. Rancangan Jalan Romawi tersebut termasuk mutakhir sebelum muncul teknologi jalan modern di akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Sayangnya jalan itu rusak ketika Romawi mulai runtuh.

Seorang skotlandia bernama Thomas Telford (1757 - 1834) membuat rancangan jalan raya, di mana batu besar pipih diletakan menghadap ke atas atau berdiri dan sekarang dikenal dengan pondasi jalan Telford. Konstruksi ini sangat kuat terutama sebagai pondasi jalan, dan sangat padat karya karena harus disusun dengan tangan satu per satu. Banyak jalan yang bermutu baik dengan konstruksi Telford, tetapi tidak praktis memakan waktu.

Oleh sebab itu ada konstruksi berikutnya oleh John Loudon Mc Adam (1756-1836). Konstruksi jalan yang di Indonesia dikenal dengan jalan Makadam itu lahir berkat semangat membuat banyak jalan dengan biaya murah. Jalan tersebut berupa batu pecah yang diatur padat dan ditimbun dengan kerikil. Jalan Makadam sangat praktis, batu pecah digelar tidak perlu disusun satu per satu dan saling mengunci sebagai satu kesatuan.

Di akhir abad ke XIX, seiring dengan maraknya penggunaan sepeda, pada 1824 dibangun jalan aspal namun dengan cara menaruh blok-blok aspal. Jalan bersejarah itu dapat disaksikan di Champ-Elysess, Paris, Perancis. Jalan aspal yang bersipat lebih plastis atau dapat kembang susut yang baik terhadap perubahan cuaca dan sebagai pengikat yang lebih tahan air.

Di Skotlandia, hadir jalan beton yang dibuat dari semen portland pada 1865. Sekarang banyak jalan tol dengan konstruksi beton (tebal minimum 29 cm) dan tahan hingga lebih dari 50 tahun serta sangat kuat sekali memikul beban besar.

Jalan Aspal modern merupakan hasil karya imigran Belgia Edward de Smedt di Columbia University, New York. Pada tahun 1872, ia sukses merekayasa aspal dengan kepadatan maksimum. Aspal itu dipakai di Battery Park dan Fifth Avenue, New York, tahun 1872 dan Pennsylvania Avenue, Washington D.C pada tahun 1877.

Pada saat ini sedikitnya 90 % jalan utama di perkotaan selalu menggunakan bahan aspal.




"Banyak jalan menuju Roma" begitulah istilah yang umum dikenal mengenai jalan-jalan Romawi. Istilah tersebut tidaklah keliru karena bangsa Romawi banyak membangun jalan. Di puncak kejayaannya , bangsa Romawi membangun jalan sepanjang 85.000 km yang terbentang dari Inggris hingga Afrika Utara, dari pantai Samudera Atlantik di Semenanjung Iberia hingga Teluk Persia. Keberadaan jalan tersebut diabadikan dalam peta yang dikenal sebagai Peta Peutinger.
Di Eropa, jalan tertua disebut-sebut adalah Jalur Kuning yang berawal dari Yunani dan Tuscany hingga Laut Baltik.

Di Asia timur, bangsa Cina membangun jalan yang menghubungkan kota-kota utamanya yang bila digabung mencapai 3200 km.
Seiring perkembangan peradaban di Timur tengah pada masa 3000 SM, maka dibangunlah jalan raya yang menghubungkan Mesopotamia-Mesir. Selain untuk perdagangan, jalan tersebut berguna untuk kebudayaan bahkan untuk peperangan. Jalan utama pertama di kawasan itu, disebut-sebut adalah Jalan Bangsawan Persia yang terentang dari Teluk Persia hingga Laut Aegea sepanjang 2857 km. Jalan ini bertahan dari tahun 3500-300 SM.
Read more..

Perkerasan lentur

Perkerasan lentur adalah struktur perkerasan yang sangat banyak digunakan dibandingkan dengan struktur perkerasan kaku. Struktur perkerasan lentur dikonstruksi baik untuk konstruksi jalan, maupun untuk konstruksi landasan pacu. Tujuan struktur perkerasan adalah:

* agar di atas struktur perkerasan itu dapat lalui setiap saat. Oleh karena itu lapis permukaan perkerasan harus kedap air - melindungi lapis tanah dasar sehingga kadar air lapis tanah dasar tidak mudah berubah.
* mendistribusikan beban terpusat, sehingga tekanan yang terjadi pada lapis tanah dasar menjadi lebih kecil. Oleh karena itu lapis struktur perkerasan harus dibuat dengan sifat modulus kekakuan (modulus elastisitas) lapis di atas lebih besar daripada lapis di bawahnya.
* menyediaan kekesatan agar aman. Oleh karena itu permukaan perkerasan harus kasar, sehingga mempunyai koefisien gesek yang besar antara roda dan permukaan perkerasan.
* menyediaan kerataan agar nyaman. Oleh karena itu permukaan harus rata, sehingga pengguna tidak terguncang pada saat lewat pada perkerasan.

Semua bahan yang digunakan harus awet (tahan lama), agar struktur perkerasan ini berfungsi untuk waktu yang lama. Lapis permukaan dari struktur perkerasan lentur ini merupakan campuran agregat yang bergradasi rapat dan aspal, atau disebut juga campuran beraspal. Kedua bahan ini dicampur dalam keadaan panas (sehingga dikenal dengan nama hot mix, dihamparkan serta dipadatkan dalam keadaan panas pula. Lapis permukaan ini harus kedap air, permukaannya rata namun kasar. Lapis struktur di bawah lapis permukaan adalah lapis pondasi, dan dibuat dari batu pecah. Lapis di bawahnya adalah lapis pondasi bawah, dan dibuat dari pasir batu (sirtu). Lapis pondasi maupun lapis pondasi bawah ini juga dapat dibuat dari bahan lain seperti material yang distabilitasi dengan portland semen, kapur, aspal, maupun bahan pengikat lainnya. Semua lapis ini dikonstruksi dilapis tanah dasar, yaitu tanah yang telah dipadatkan. Biaya konstruksi struktur perkerasan lentur ini relatif lebih murah dibandingkan dengan struktur perkerasan kaku. Di Indonesia, lebih banyak tenaga pelaksana yang ahli dalam pembuat konstruksi perkerasan lentur dibandingkan dengan perkerasan kaku. Agar struktur perkerasan lentur ini berfungsi dengan baik, maka selain perkerasan harus terpelihara dengan baik, bahu jalan dan saluran samping juga harus terpelihara.



Struktur perkerasan lentur pada saat ini dikonstruksi dengan menggunakan alat berat. Dahulu, konstruksi jalan dibuat dengan menggunaan tenaga manusia dan alat pemadat sederhana. Struktur yang cocok dengan keadaan pada saat itu dikenal dengan konstruksi makadam (berasal dari nama John Loudon McAdam), maupun telford (berasal dari nama Thomas Telford. Pada saat ini konstruksi seperti itu tidak layak lagi dibuat pada jalan penting dan mempunyai volume lalu lintas yang tinggi dan dengan beban yang berat, seperti jalan arteri dan kolektor primer maupun sekunder. Konstruksi Macadam dan Telford masih dapat dipertimbangkan dikonstruksi untuk jalan dengan beban lalu lintas yang ringan, seperti jalan lokal.


Read more..

Apa itu Aspal?

Aspal ialah bahan hidro karbon yang bersifat melekat (adhesive), berwarna hitam kecoklatan, tahan terhadap air, dan visoelastis. Aspal sering juga disebut bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran beraspal yang dimanfaatkan sebagai lapis permukaan lapis perkerasan lentur. Aspal berasal dari aspal alam (aspal buton} atau aspal minyak (aspal yang berasal dari minyak bumi}. Berdasarkan konsistensinya, aspal dapat diklasifikasikan menjadi aspal padat, dan aspal cair.






Read more..

Daftar kayu di Indonesia Jenis Kayu Indah/Kelompok Indah Dua

1. Bongin Irvingia malayana Oliv. Pauh kijang, Sepah, Kayu batu
2. Bungur Lagerstroemia speciosa Pers. Ketangi, wungu (Jw.), tekuyung, benger
3. Cempaka Michelia spp., Elmerrillia spp. Minjaran, Wasian, Manglid, Sitekwok, Kantil (Jw.), Capuka
4. Cendana Santalum album L. Kayu kuning, Lemo daru
5. Dahu Dracontomelon spp.; mis. D. dao Merr. & Rolfe, D. mangiferum Bl. Dao, basuong (Smt.), sengkuang (Mly.), koili
6. Johar Senna spp.[4] Juar, Trengguli, Sebusuk, Bobondelan
7. Kuku Pericopsis mooniana Thw. Kayu laut, Papus, Nani laut
8. Kupang Ormosia spp. Kayu ruan, Saga
9. Lasi Adina fagifolia Ridl. Adina, Kilaki
10. Mahoni Swietenia spp.; mis. S. macrophylla King, S. mahagoni (L.) Jacq. Mahoni
11. Melur Dacrydium spp.; Podocarpus spp. dan Phyllocladus spp. Mis. Dacrydium junghuhnii Miq. Alau, cemantan (Klm.); Jamuju, kayu embun (Slw.), sampinur bunga (Smt.); Sampinur tali; Kayu cina; Ki merah, Sandu
12. Membacang Mangifera spp. Ambacang, Asam, Limus piit, Mempelam, Wani, Mangga
13. Mindi Melia spp.; terutama M. azedarach L. Bawang kungut
14. Nyirih Xylocarpus granatum J. Konig Nyireh, Niri
15. Pasang Quercus spp. Mempening, Baturua, Kasunu, Triti
16. Perepat darat Combretocarpus rotundatus Dans. Marapat, Teruntum batu
17. Raja bunga Adenanthera spp Saga, Segawe, Klenderi
18. Rengas Gluta spp.; Melanorrhoea spp. Ingas, Suloh, Rangas, Rengas burung

19. Ramin Gonystylus bancanus Kurz Gaharu buaya, Medang keladi, Keladi, Miang
20. Sawo kecik Manilkara spp.; mis. M. fascicularis H.J. Lam & Maas Geest., M. kauki (L.) Dub. Subo, Ki sawo
21. Salimuli Cordia spp. Kendal, Klimasada, Purnamasada
22. Sindur Sindora spp.; mis. S. bruggemanii de Wit, S. coriacea Maing., S. wallichii Graham Sepetir (Mly.), sasundur (Klm.), mobingo (Slw.)
23. Sonokembang Pterocarpus indicus Willd. Angsana, Linggua, Nala, Candana
24. Sonokeling Dalbergia latifolia Roxb. Linggota, sono sungu, sonobrits
25. Sungkai Peronema canescens Jack Jati seberang, Jati londo
26. Tanjung Mimusops elengi L. Sawo manuk (Jw.), karikis (Slw.)
27. Tapos Elateriospermum tapos BI. Kelampai, Setan, Kedui, Wayang
28. Tinjau belukar Pteleocarpus lampongus Bakh. Lontar kuning
29. Torem Manilkara kanosiensis H.j. L. et B. M. Sawai, Torem
30. Trembesi Samanea saman Merr. Ki hujan
31. Ulin Eusideroxylon zwageri T.et B. Kayu besi, bulian, kokon
32. Weru Albizia procera Benth. Beru, Ki hiyang, Bengkal

Read more..

Daftar kayu di Indonesia Jenis Kayu Eboni/Kelompok Indah Satu

1. Eboni bergaris Diospyros celebica Bakh. Maitong, Kayu lotong, Sora, Amara
2. Eboni hitam Diospyros rumphii Bakh. Kayu hitam, Maitem, Kayu waled
3. E b o n i Diospyros spp.; di antaranya D. areolata King et G., D. cauliflora BI., D. ebenum Koen, D. ferrea Bakh., D. lolin Bakh., D. macrophylla BI. Baniak, Toli-toli, Kayu arang, Kanara, Gito-gito, Bengkoal, Malam



Read more..

Daftar kayu di Indonesia Jenis Kayu Rimba Campuran/Kelompok Komersial Dua

1. Bakau Rhizophora spp. dan Bruguiera spp Tumu, Lenggadai, Jangkar, Tanjang, Putut, Busing, Mata buaya
2. Bayur Pterospermum spp. Balang, Walang, Wadang, Wayu
3. Benuang Octomeles sumatrana Miq. Benuang bini (Klm.), winuang (Slw.)
4. Berumbung Adina minutiflora Val.); Pertusadina spp. Kayu lobang, Barumbung, Kayu gatal
5. Bintangur Calophyllum spp.; mis. C. calaba L., C. inophyllum L., C. papuanum Lauterb., C. pulcherrimum Wall.ex Choisy, C. soulattri Burm.f. Bintangor, penaga; Nyamplung; Sulatri; Bunoh, bintangur bunut
6. Bipa Pterygota spp. Kayu wipa
7. Bowoi Serianthes minahassae Merr. & Perry (Syn. Albizia minahasae Koord.) Rayango, Merang, Terangkuse
8. Bugis Koordersiodendron pinnatum Merr. Grepau
9. Cenge Mastixia rostrata BI. Cenge, Cingo
10. Duabanga Duabanga moluccana BI. Benuang laki, Takir, Aras, Raju mas
11. Ekaliptus Eucalyptus spp.; mis. E. alba Reinw.ex Bl., E. deglupta Bl., E. urophylla S.T. Blake Kayu putih; Leda, aren (Mlku.), tampai; Ampupu (Timor),
12. Gelam Melaleuca spp. Kayu putih
13. Gempol Nauclea spp. Wosen, Klepu pasir, Anggrit
14. Gopasa Vitex spp. Teraut, Laban
15. Gerunggang/Derum Cratoxylum spp.; mis. C. arborescens (Vahl) Bl., C. cochinchinense (Lour.) Bl. Madang baro; Mampat, butun; kemutul, temau; edat
16. Jabon Anthocephalus spp. (A. chinensis (Lamk.) A.Rich ex Walp. dan A. macrophyllus (Roxb.) Havil.) Kelampayan (Mly.), laran (Klm.), semama (Amb.). Ingg.: cadamba.
17. Jambu-jambu Syzygium spp. [3] Kelat, Ki tembaga, Jambu
18. Kapas-kapasan Exbucklandia populnea R. Brown Hapas-hapas, Tapa-tapa, Leman
19. Kayu kereta Swintonia spp. Rengas sumpung, Merpauh, Bagel mirah
20. Kecapi Sandoricum spp. Papung, Kelam, Sentul
21. Kedondong Hutan Spondias spp. Coco, Kacemcem leuweung
22. Kelumpang Sterculia spp. Kepuh, Kalupat, Lomes

23. Kembang semangkok Scaphium macropodum J. B. Kepayang, merpayang (Smt.)
24. Kempas Koompassia malaccensis Maing. Hampas, impas, tualang ayam
25. Kenanga Cananga sp. Kananga
26. Keranji Dialium spp.; mis. D. indum L., D. platysepalum Baker, D. procerum (v.Steen.) Stey Kayu lilin; Maranji
27. Ketapang Terminalia spp. Kalumpit, Klumprit, Jelawai, Jaha
28. Ketimunan Timonius spp. Seranai, Temirit, Kayu reen
29. Lancat Mastixiodendron spp. Kundur, Modjiu, Raimagago
30. Lara Metrosideros spp. dan Xanthostemon spp. Lompopaito, Nani, Langera
31. Mahang Macaranga spp. Merkubung, Mara, Benua
32. Medang Litsea firma Hook f.; Dehaasia spp. Manggah, Huru kacang, Keleban, Wuru, Kunyit
33. Mempisang Mezzetia parviflora Becc.; Xylopia spp.; Alphonsea spp.; Kandelia candel Druce Mahabai, Hakai rawang, Empunyit, Jangkang, Banitan, Pisang-pisang
34. Mendarahan Myristica spp., Knema spp. Darah-darah, Tangkalak, Au-au, Ki mokla, Kumpang, Kayu luo, Huru
35. Menjalin Xanthophyllum spp. Lilin, Ki endog, Segi landak
36. Mentibu Dactylocladus stenostachys Oliv. Jongkong, merebung
37. Merambung Vernonia arborea Han. Merambung, sembung
38. Punak Tetramerista glabra Miq. Kayu malaka (Smt.), cerega (Klm.)
39. Puspa Schima spp.; terutama S. wallichii Korth. Seru (Jw.), simartolu (Smt.), madang gatal (Klm.)
40. Rengas Gluta aptera (King) Ding Hou Rengas tembaga, Rangas
41. Saninten Castanopsis argentea A. DC. Sarangan (Jw.), ki hiur (Sd.), kalimorot
42. Sengon Paraserianthes falcataria (L) Nielsen Jeungjing, Tawa kase, Sika (Maluku)
43. Sepat Berrya cordofolia Roxb. Waru gunung, Kalong
44. Sesendok Endospermum spp.; mis. E. diadenum (Miq.) Airy Shaw, E. moluccanum (T & B) Kurz, E. peltatum Merr. Sendok-sendok, kayu labuh (Smt.), kayu bulan (Mly.), garung (Klm.); Kayu raja (Mlku.)
45. Simpur Dillenia spp.; mis. D. grandifolia Wall., D. obovata Hoogl., D. pentagyna Roxb. Sempur, segel, janti, dongi
46. Surian Toona sureni Merr. Suren, kalantas
47. Tembesu Fagraea spp.; mis. F. fragrans Roxb., F. sororia J.J. Sm. Tomasu (Smt.), kulaki (Slw.), malbira, ki tandu
48. Tempinis Sloetia elongata Kds. Damuli, Kayu besi
49. Tepis Polyalthia glauca Boerl. Banitan, Pemelesian, Kayu tinyang, Kayu bulan, Banet, Kayu kalet
50. Tenggayun Parartocarpus spp. Buku ongko, Pejatai, Purut bulu
51. Terap Artocarpus spp. Cempedak, Kulur, Tara, Teureup
52. Terentang Campnosperma spp.; mis. C. auriculatum (Bl.) Hook.f., C. brevipetiolatum Volkens, dll. Tumbus (Smt.), pauh lebi
53. Terentang ayam Buchanania spp. Pauhan, Antumbus, Talantang
54. T u s a m Pinus spp. Pinus, Damar batu, Uyam
55. Utup Aromadendron sp. U t u p

Read more..

Daftar kayu di Indonesia Jenis Meranti/Kelompok Komersial Satu

No. Nama Perdagangan Nama Ilmiah Nama-nama Daerah
1. Agatis Agathis spp. Damar (Jw.), dama (Slw.), damar bindang (Klm.), damar sigi (Smt.). (Ingg.): kauri pine.
2. Balau Shorea spp. (misalnya S. materialis Ridl., S. maxwelliana King, S. scrobiculata Burck); Parashorea spp. Damar laut (Smt.), semantok (Aceh), amperok, anggelam, selangan batu (Klm.)
3. Balau merah Shorea spp. (mis. S. collina Ridl., S. guiso (Blanco) Bl.) Balau laut, damar laut merah, batu tuyang, putang, lempung abang. Ingg.: red selangan.
4. Bangkirai Shorea spp. (mis. S. kunstleri King, S. laevis Ridley, S. laevifolia Endert); Hopea spp. (mis. H. celebica Burck, H. semicuneata Sym.) Benuas, balau mata kucing, hulo dereh, puguh, jangkang putih, kerangan (Smt.), bubuh (Bk.)
5. Damar Araucaria spp. (mis. A. cunninghamii D. Don, A. hunsteinii K.Schum.) Alloa, ningwik, pien (Pap.). Ingg.: araucaria.
6. Durian Durio spp. (terutama Durio carinatus Mast.); Coelostegia spp. Durian burung, lahong, layung, apun, begurah, punggai, durian hantu, enggang
7. Gia Homalium tomentosum (Roxb.) Benth., Homalium foetidum (Roxb.) Benth. Delingsem (Jw.), kayu batu, melunas, kayu kerbau, momala (Slw.)
8. Giam[2] Cotylelobium spp. (mis. C. burckii Heim, C. lanceolatum Craib, C. melanoxylon Pierre Giam durian, resak bukit tembaga; giam padi, resak daun kecil, resak batu; giam tembaga, resak daun lebar; resak gunung
9. Jelutung Dyera spp. Pulai nasi, pantung gunung, melabuai
10. Kapur Dryobalanops spp. (di antaranya D. oblongifolia Dyer, D. sumatrensis (Gmelin) Kosterm.) Kamper (kayu), kayu kayatan, empedu, keladan
11. Kapur petanang Dryobalanops oblongifolia Dyer Kapur guras (Smt.), kapur paya (Mly.), kelansau (Swk.)
12. Kenari Canarium spp., Dacryodes spp. , Santiria spp., Trioma spp. Kerantai, ki tuwak, binjau, asam-asam, kedondong (kedundung), resung, bayung, ranggorai, mertukul
13. Keruing Dipterocarpus spp. (mis. D. applanatus V.Sl., D. baudii Korth., D. elongatus Korth. dll.) Keruing arong, kekalup; Lagan sanduk, mara keluang; Keruing tempudau; tempurau, merkurang, kawang, apitong
14. Kulim Scorodocarpus borneensis Becc. Kayu bawang hutan (Klm.)
15. Malapari Pongamia pinnata (L.) Pierre Malapari
16. Matoa Pometia spp.; mis. P. pinnata Forster & Forster, P. ridleyi King Kasai, taun, kungki, hatobu, kayu sapi (Jw.), tawan (Mlku.), ihi mendek (Irian Jaya)
17. Medang Cinnamomum spp. Sintuk, sintok lancing, ki teja, ki tuha, ki sereh, selasihan
18. Meranti kuning Shorea spp. (di antaranya: S. acuminatissima Sym., S. balanocarpoides Sym., S. faguetiana Heim, S. gibbosa Brandis, Shorea scollaris V.Sl.; Damar hitam, damar kalepek; Damar hitam katup; Bangkirai guruk, karamuku; Damar buah, mereng-kuyung; Damar tanduk. Ingg.: yellow seraya.

19. Meranti merah Shorea spp. (di antaranya: S. johorensis Foxw., S. lepidota BI., S. leprosula Miq., S. ovalis BI., S. palembanica Miq., S. platyclados V.Sl. ex Foxw., S. leptoclados Sym., dll.) Majau, meranti merkuyung; Meranti ketrahan; Meranti tembaga, kontoi bayor; Meranti kelungkung; Tengkawang majau; Banio, ketir; Seraya merah, campaga, lempong, kumbang, meranti ketuko, cupang. Ingg.: red seraya, red lauan.
20. Meranti putih Shorea spp. (di antaranya: S. assamica Dyer, S. bracteolata Dyer, S. javanica K. et. Val., S. lamellata Foxw., S. ochracea Sym., S. retinodes V.SI., S. virescens Parijs, S. koordersi Brandis, dll.) Damar mesegar; Bunyau, damar kedontang; Damar mata kucing, damar kaca, damar kucing; Damar tunam, damar pakit; Damar kebaong, baong, bayong, baung, belobungo, kontoi tembaga; Balamsarai, damar mansarai; Damar maja, kontoi sabang; Kikir, udang, udang ulang, damar hutan, anggelam tikus, maharam potong, pongin, awan punuk, mehing (Smt., Kal.); Damar lari-lari, lalari, temungku, tambia putih (Slw.), Damar tenang putih, hili, honi (Mlku.). Ingg.: white meranti.
21. Merawan Hopea spp. (mis. H. dasyrrachis V.Sl., H. dyeri Heim, H. sangal Korth., dll.) Tekam, tekam rayap; Bangkirai tanduk, emang, amang besi; Cengal, merawan telor; Ngerawan, cengal balau
22. Merbau Intsia spp. (terutama I. bijuga O.K., I. palembanica Miq.) Merbau asam, ipi (NT.), kayu besi (Papua); Ipil, anglai, maharan; Tanduk (Mlku.)
23. Mersawa Anisoptera spp. (mis. A. laevis Ridl., A. marginata Korth., A. thurifera Bl.) Cengal padi, damar kunyit; Masegar (Smt.), ketimpun (Klm.), mersawa daun besar; tabok, tahan
24. Nyatoh Palaquium spp., Payena spp., Madhuca spp. Suntai, balam, jongkong, hangkang, katingan, mayang batu, bunut, kedang, bakalaung, ketiau, jengkot, kolan
25. Palapi Heritiera (Tarrietia) spp.; mis. H. javanica (Bl.) Kosterm., H. simplicifolia (Mast.) Kosterm., H. littoralis Ait., H. sylvatica S. Vidal Mengkulang, teraling; Dungun, talutung, lesi-lesi.
26. Penjalin Celtis spp. Rempelas, ki jeungkil, ki endog (Sd.), cengkek (Jw.), pusu (Sumbawa)
27. Perupuk Lophopetalum spp.; mis. L. javanicum (Zoll.) Turcz., L. multinervium Ridl., L. subobovatum King, L. wightianum Arn. Kerupuk (Smt.), pasana (Klm.), mandalaksa (Jw.), aras
28. Pinang Pentace spp. Melunak, ki sigeung, ki sinduk, kelembing
29. Pulai Alstonia spp. (di antaranya A. pneumatophora Back., A. scholaris R.Br., A. spatulata Bl., A. macrophylla Wall., A. spectabilis R.Br.) Kayu gabus, rita, gitoh, bintau, basung, pule, pulai miang. Ingg.: white cheesewood, milkwood, milky pine.
30. Rasamala Altingia excelsa Noroña Tulasan (Smt.), mandung (Min.), mala (Jw.)
31. Resak Vatica spp.; mis. V. maingayi Dyer, V. oblongifolia Hook.f., V. rassak Bl. Damar along, resak putih19. Meranti merah Shorea spp. (di antaranya: S. johorensis Foxw., S. lepidota BI., S. leprosula Miq., S. ovalis BI., S. palembanica Miq., S. platyclados V.Sl. ex Foxw., S. leptoclados Sym., dll.) Majau, meranti merkuyung; Meranti ketrahan; Meranti tembaga, kontoi bayor; Meranti kelungkung; Tengkawang majau; Banio, ketir; Seraya merah, campaga, lempong, kumbang, meranti ketuko, cupang. Ingg.: red seraya, red lauan.
20. Meranti putih Shorea spp. (di antaranya: S. assamica Dyer, S. bracteolata Dyer, S. javanica K. et. Val., S. lamellata Foxw., S. ochracea Sym., S. retinodes V.SI., S. virescens Parijs, S. koordersi Brandis, dll.) Damar mesegar; Bunyau, damar kedontang; Damar mata kucing, damar kaca, damar kucing; Damar tunam, damar pakit; Damar kebaong, baong, bayong, baung, belobungo, kontoi tembaga; Balamsarai, damar mansarai; Damar maja, kontoi sabang; Kikir, udang, udang ulang, damar hutan, anggelam tikus, maharam potong, pongin, awan punuk, mehing (Smt., Kal.); Damar lari-lari, lalari, temungku, tambia putih (Slw.), Damar tenang putih, hili, honi (Mlku.). Ingg.: white meranti.
21. Merawan Hopea spp. (mis. H. dasyrrachis V.Sl., H. dyeri Heim, H. sangal Korth., dll.) Tekam, tekam rayap; Bangkirai tanduk, emang, amang besi; Cengal, merawan telor; Ngerawan, cengal balau
22. Merbau Intsia spp. (terutama I. bijuga O.K., I. palembanica Miq.) Merbau asam, ipi (NT.), kayu besi (Papua); Ipil, anglai, maharan; Tanduk (Mlku.)
23. Mersawa Anisoptera spp. (mis. A. laevis Ridl., A. marginata Korth., A. thurifera Bl.) Cengal padi, damar kunyit; Masegar (Smt.), ketimpun (Klm.), mersawa daun besar; tabok, tahan
24. Nyatoh Palaquium spp., Payena spp., Madhuca spp. Suntai, balam, jongkong, hangkang, katingan, mayang batu, bunut, kedang, bakalaung, ketiau, jengkot, kolan
25. Palapi Heritiera (Tarrietia) spp.; mis. H. javanica (Bl.) Kosterm., H. simplicifolia (Mast.) Kosterm., H. littoralis Ait., H. sylvatica S. Vidal Mengkulang, teraling; Dungun, talutung, lesi-lesi.
26. Penjalin Celtis spp. Rempelas, ki jeungkil, ki endog (Sd.), cengkek (Jw.), pusu (Sumbawa)
27. Perupuk Lophopetalum spp.; mis. L. javanicum (Zoll.) Turcz., L. multinervium Ridl., L. subobovatum King, L. wightianum Arn. Kerupuk (Smt.), pasana (Klm.), mandalaksa (Jw.), aras
28. Pinang Pentace spp. Melunak, ki sigeung, ki sinduk, kelembing
29. Pulai Alstonia spp. (di antaranya A. pneumatophora Back., A. scholaris R.Br., A. spatulata Bl., A. macrophylla Wall., A. spectabilis R.Br.) Kayu gabus, rita, gitoh, bintau, basung, pule, pulai miang. Ingg.: white cheesewood, milkwood, milky pine.
30. Rasamala Altingia excelsa Noroña Tulasan (Smt.), mandung (Min.), mala (Jw.)
31. Resak Vatica spp.; mis. V. maingayi Dyer, V. oblongifolia Hook.f., V. rassak Bl. Damar along, resak putih


Read more..

Daftar Kayu Keras

# Afzelia (Afzelia)
# Agba
# Albizia (Albizia)
# Alder (Alnus)

* Black alder (Alnus glutinosa)
* Red alder (Alnus rubra)

# Applewood or wild apple (Malus)
# Ash (Fraxinus)

* Black ash (Fraxinus nigra)
* Blue ash (Fraxinus quadrangulata)
* Common ash (Fraxinus excelsior)
* Green ash (Fraxinus pennsylvanica lanceolata)
* White ash (Fraxinus americana)

# Aspen (Populus)

* American aspen (Populus tremuloides)
* Bigtooth aspen (Populus grandidentata)
* European aspen (Populus tremula)

# Ayan (Distemonanthus benthamianus)
# Balsa (Ochroma pyramidale)
# Basswood (Tilia americana)
# Beech (Fagus)

* European Beech (Fagus sylvatica)
* American Beech (Fagus grandifolia)

# Birch (Betula)

* American birches
o Gray birch (Betula populifolia)
o Paper birch (Betula papyrifera)
o Sweet birch (Betula lenta)
o Yellow birch (Betula lutea or B. alleghaniensis ) - most common birch wood sold in N.Am.


*
o European birches
+ Silver birch (Betula pendula)
+ White Birch also Baltic birch (N.Am.) (Betula pubescens)

* Blackbean (Castanospermum australe)
* Blackwood (Acacia melanoxylon)
* Bocote (Cordia alliodora)
* Boxwood or Box (Buxus sempervirens)
* Brazilwood (Caesalpinia echinata)
* Buckeye (Aesculus)
o Common Horse-chestnut (Aesculus hippocastanum)
o Yellow Buckeye (Aesculus flava)
* Butternut (Juglans cinerea)
* Carapa (or Andiroba, Carap, Crappo, Crabwood and Santa Maria) (Carapa guianensis) .
* Catalpa (Catalpa)
* Cherry (Prunus)
o Black cherry (Prunus serotina)
o Red cherry (Prunus pennsylvanica)
o Wild cherry (Prunus avium)
o "Brazilian Cherry" Not a Cherry See Jatoba below
* Chestnut (Castanea dentata)
* Coachwood (Ceratopetalum apetalem)
* Cocobolo (Dalbergia retusa)
* Coralwood or Bubinga (Guibourtia spp.)
* Corkwood (Leitneria floridana)
* Cottonwood, eastern (Populus deltoides)
* Dogwood (Cornus spp.)
* Ebony (Diospyros)
o Andaman marble-wood (India) (Diospyros kursii)
o Ebène marbre (Maritius, E. Africa) (Diospyros melanida)
* Elm
o American elm (Ulmus americana)
o English elm (Ulmus procera)
o Rock elm (Ulmus thomasii)
o Slippery elm (Ulmus rubra)
o Wych elm (Ulmus glabra)
* Eucalyptus (Eucalyptus)
o Lyptus
o Karri (W. Australia) (Eucalyptus diversicolor)
o Mahogany eucalyptus, (New South Wales) (Eucalyptus)
o Jarrah or West Australian eucalyptus (Eucalyptus marginata)
o Tasmanian oak or Mountain ash, (Eucalyptus regnans)
* Greenheart (British Guiana) (Nectandra rodioei)
* Grenadilla (Mpingo) (Dalbergia melanoxylon)
* Gum
o Blackgum (Nyssa sylvatica)
o Blue gum (Eucalyptus globulus)
o Redgum or Sweetgum (Liquidambar styraciflua)
o Tupelo gum (Nyssa aquatica)
* Hickory (Carya)
o Mockernut hickory (Carya alba)
o Pignut hickory (Carya glabra)
o Shagbark hickory (Carya ovata)
o Shellbark hickory (Carya laciniosa)
* Hornbeam (Carpinus species)
* Hornbeam, American (Ostrya virginiana)
* Ipe (Tabebuia impetiginosa)
* Iroko (Clorophora excelsa)
* Ironwood refers to the wood of many tree species noted for the hardness of their wood. Trees commonly known as ironwoods include:
o Carpinus caroliniana — also known as American hornbeam
o Casuarina equisetifolia — Common Ironwood from Australia
o Choricarpia subargentea
o Copaifera spp.
o Eusideroxylon zwageri
o Guajacum officinale and Guajacum sanctum — Lignum vitae
o Hopea odorata
o Krugiodendron ferreum — Black Ironwood
o Lyonothamnus lyonii (L. floribundus) — Catalina Ironwood
o Mesua ferrea — also known as Rose Chestnut or Ceylon Ironwood, from Thailand, Laos, Vietnam, Cambodia
o Olea spp. — various olive trees
o Olneya tesota — Desert Ironwood
o Ostrya virginiana — Hop hornbeam
o Parrotia persica — Persian Ironwood
o Tabebuia serratifolia — Ipe
* Jacarandá, Brazilian rosewood (Dalbergia nigra)
* Jatobá (Hymenaea courbaril)
* Lacewood from the Sycamore(N.Am.) or Plane(UK) trees (Platanus species)
o In N.Am. also refers to Australian Silky oak
* Lauan or Luan (Shorea spp.)
* Laurel, California (Umbellularia californica)
* Limba (Terminalia superba)
* Lignum vitae (Guaiacum officinale and Guaiacum sanctum)
* Locust
o Black locust or Yellow locust (Robinia pseudacacia)
o Honey locust (Gleditsia triacanthos)
* Magnolia, cucumber (Magnolia acuminata)
* Mahogany
o Mahogany (African) (Khaya ivorensis)
o Mahogany (West Indies or Cuban) (Swietenia mahagoni)
o Mahogany (Honduras, Central and South America) (Swietenia macrophylla)
o Mahogany (Phillipine), Not a mahogany, see Lauan.
* Maple (Acer)
o Hard Maple (N.Am.)
+ Sugar maple (Acer saccharum)
+ Black maple (Acer nigrum)
o Soft Maple (N.Am.)
+ Manitoba maple (Acer negundo)
+ Red maple (Acer rubrum)
+ Silver maple (Acer saccharinum)
o European Maples
+ Sycamore maple (Acer pseudoplatanus)
+ Norway maple (Acer platanoides)
+ Field maple (Acer campestre)
* Meranti (Shorea spp.)
* Mpingo (Grenadilla) (Dalbergia melanoxylon)
* Oak (Quercus)
o American White Oak includes wood from any of the following species of trees:
+ Bur oak (Quercus macrocarpa)
+ White oak (Quercus alba)
+ Post oak (Quercus stellata)
+ Swamp white oak (Quercus bicolor)
+ Southern live oak (Quercus virginiana)
+ Swamp chestnut oak (Quercus michauxii
+ Chestnut oak (Quercus prinus or Q. montana))
+ Chinkapin oak (Quercus muhlenbergii)
+ Canyon live oak (Quercus chrysolepis)
+ Overcup oak (Quercus lyrata)
o English oak, also French and Slovenian oak barrels (Quercus robur)
o Red Oakincludes wood from any of the following species of trees:
+ Red oak (Quercus rubra)
+ Black oak (Quercus velutina)
+ Pin oak (Quercus pallustris)
+ Scarlet oak (Quercus coccinea)
+ Laurel oak (Quercus laurifolia))
+ Southern red oak (Quercus falcata)
+ Water oak (Quercus nigra)
+ Willow oak {Quercus phellos)
+ Nuttall's oak (Quercus texana or Q. nuttallii)
+ Willow oak (Quercus phellos)
o "Tasmanian oak"; Not an oak see Eucalyptus above
o Australian "Silky oak"; Not an oak see Silky Oak below
* Okoumé or "Gaboon" (Aucoumea klaineana)
* Oregon Myrtle or California Bay Laurel (Umbellularia californica)
* Pear (Pyrus communis)
* Persimmon (Diospyros virginiana)
* Poplar (Populus; in N.Am., wood sold as poplar is usually Yellow-poplar — see below)
o Balsam poplar (Populus balsamifera)
o Black poplar (Populus nigra)
o Hybrid poplar (Populus x canadensis)
* Ramin
* Redcedar (Toona ciliata)
* Rosewood (Dalbergia spp.)
* Sal (Shorea robusta)
* Sandalwood (Santalum album)
* Sassafras (Sassafras uariafolium)
* Sassafras (Australia) (Atherosperma moschatum)
* Satinwood (Ceylon) (Chloroxylon swietenia)
* Silky Oak; (Grevillea robusta); Sold as Lacewood in North America
* Sourwood (Oxydendrum arboreum)
* Spanish-cedar (Cedrela odorata)
* American sycamore (Platanus occidentalis)
* Teak (Tectona grandis)
* Utile (Entandrophragma utile)
* Walnut (Juglans)
o Black Walnut (Juglans nigra)
o Persian Walnut (Juglans regia)
o Brazilian walnut; Not a walnut see Ipe above.
* Willow (Salix)
o Black willow (Salix nigra)
o Cricket-bat willow (Salix alba 'Coerulea')
o White willow (Salix alba)
* Yellow-poplar (Liriodendron tulipifera)



Read more..

Daftar Kayu Lunak

# Araucaria

* Hoop Pine (Aus.) Araucaria cunninghamii
* Parana Pine (Brazil) Araucaria angustifolia
* Pehuén or Chile Pine Araucaria araucana

# Cedar (Cedrus); also incorrectly applied to a number of woods from trees in the Cypress family mainly in North America, see Redcedar, Whitecedar and Yellow-Cedar in Softwoods, and to woods from some relatives of the mahogany, see Spanish-cedar and Redcedar in Hardwoods
# Cypress (Chamaecyparis, Cupressus, Taxodium)

* Arizona Cypress (Cupressus arizonica)
* Bald Cypress or Southern cypress (Taxodium distichum)
* Hinoki Cypress (Chamaecyparis obtusa)
* Lawson's Cypress (Chamaecyparis lawsoniana)
* Mediterranean Cypress (Cupressus sempervirens)

# Douglas-fir (Pseudotsuga) (formerly sometimes "Oregon Pine")

* Coast Douglas-fir (Pseudotsuga menziesii var. menziesii)
* Rocky Mountain Douglas-fir (Pseudotsuga menziesii var. glauca)

# Fir (Abies)

* Balsam Fir (Abies balsamea)
* Silver Fir (Abies alba)
* Noble Fir (Abies procera)
* Pacific Silver Fir (Abies amabilis)



# Hemlock (Tsuga)

* Eastern Hemlock (Tsuga canadensis)
* Mountain Hemlock (Tsuga mertensiana)
* Western Hemlock (Tsuga heterophylla)

# Kauri (New Zealand) (Agathis australis)
# Kaya (Torreya nucifera)
# Larch (Larix)

* European Larch (Larix decidua)
* Japanese Larch (Larix kaempferi)
* Tamarack Larch or Tamarack (Larix laricina)
* Western Larch (Larix occidentalis)

# Pine (Pinus; Many woods are incorrectly called "Pine". See Auracaria and Douglas-fir above)

* Corsican pine (Pinus nigra)
* Jack Pine (Pinus banksiana)
* Lodgepole Pine (Pinus contorta subsp latifolia)
* Ponderosa Pine (Pinus ponderosa)
* Red Pine (N.Am.) (Pinus resinosa)
* Scots Pine, Red pine (UK), Red deal (UK), Redwood (UK, obsolete) (Pinus sylvestris)
* White Pine in (N.Am.), Yellow or Weymouth pine (UK, obsolete)
o Eastern White Pine (Pinus strobus)
o Western White Pine (Pinus monticola)
o Sugar Pine (Pinus lambertiana)
* Southern Yellow pine (US)
o Loblolly Pine (Pinus taeda)
o Longleaf Pine (Pinus palustris)
o Pitch Pine (Pinus rigida)
o Shortleaf Pine (Pinus echinata)

# "Redcedar"

* Eastern Redcedar, (Juniperus virginiana)
* Western redcedar (Thuja plicata)

# Redwood (Sequoia sempervirens)
# Rimu (New Zealand) (Dacrydium cupressinum)
# Spruce (Picea)

* Norway Spruce (Picea abies)
* Black Spruce (Picea mariana)
* Red Spruce (Picea rubens)
* Sitka Spruce (Picea sitchensis)
* White Spruce (Picea glauca)

# Sugi (Cryptomeria japonica)
# "Whitecedar"

* Northern Whitecedar (Thuja occidentalis)
* Southern Whitecedar (Chamaecyparis thyoides)

# "Yellow-cedar" (Nootka Cypress Callitropsis nootkatensis, formerly Chamaecyparis nootkatensis)
# Yew


Read more..

Apa itu Kayu?

Kayu adalah bagian keras Tanaman yang digolongkan kepada Pohon dan Semak belukar. Kayu digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari memasak, membuat perabot (meja, kursi), bahan bangunan (pintu, jendela, rangka atap), bahan kertas, dan banyak lagi. Kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan-hiasan rumah tangga dan sebagainya.

Secara kimia, kayu tersusun atas beberapa bagian utama yaitu Selulosa dan Lignin.

Dalam ilmu kayu dikenal beberapa sifat yaitu: sifat kimia, sifat fisika dan sifat mekanika

Read more..

Apa itu Baja Tahan Karat?

Baja tahan karat adalah senyawa besi yang mengandung setidaknya 10,5% Kromium untuk mencegah proses pengaratan. Kemampuan tahan karat diperoleh dari terbentuknya lapisan film oksida Kromium, dimana lapisan oksida ini menghalangi proses oksidasi besi (Ferum).


Read more..

Klasifikasi baja

  • Berdasarkan komposisi
  • Berdasarkan proses pembuatan
    • Tanur baja terbuka
    • Dapur listrik
    • Proses oksigen dasar
  • Berdasarkan bentuk produk
    • Pelat batangan
    • Tabung
    • Lembaran
    • Pita
    • Bentuk struktural
  • Berdasarkan struktur mikro
    • Feritik
    • Perlitik
    • Martensitik
    • Austenitik
  • Berdasarkan kegunaan dalam konstruksi
    • Baja Struktural
    • Baja Non-Struktural
Read more..

Apa itu Baja?

Baja adalah logam paduan dengan besi sebagai unsur dasar dan karbon sebagai unsur paduan utamanya. Kandungan karbon dalam baja berkisar antara 0.2% hingga 2.1% berat sesuai grade-nya. Fungsi karbon dalam baja adalah sebagai unsur pengeras dengan mencegah dislokasi bergeser pada kisi kristal (crystal lattice) atom besi. Unsur paduan lain yang biasa ditambahkan selain karbon adalah mangan (manganese), krom (chromium), vanadium, dan tungsten. Dengan memvariasikan kandungan karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai jenis kualitas baja bisa didapatkan. Penambahan kandungan karbon pada baja dapat meningkatkan kekerasan (hardness) dan kekuatan tariknya (tensile strength), namun disisi lain membuatnya menjadi getas (brittle) serta menurunkan keuletannya (ductility).
Read more..

Data Pabrik Semen di Indonesia

Read more..
[Tekan Tombol Ctrl + D Di Keyboard Anda Untuk Simpan/ Bookmark Alamat Website Ini Di Internet Browser Anda]
konstruksi on Facebook

Berlangganan

masukkan e-mail Anda dapatkan artikel terbaru dari kami:

Delivered by konstruksi

Domain Gratis

CO.CC:Free Domain
Adsense Indonesia